Kobe Child Murders, Kasus Pembunuhan Anak di Kobe, Jepang

seito-sakakibara

 Kasus mengerikan Kobe Child Murders 

Siapa yang tidak ingin ke Jepang? Salah satu negara terindah di Asia ini tak pernah sepi wisatawan. Berbagai pemandangan yang ditawarkan setiap kotanya siap memanjakan matamu jika berkunjung ke negeri sakura ini.

Tetapi karena kamu sekarang sedang ada di Rumah Misteri, maka tentu saja kita tidak akan membahas hal yang indah-indah tersebut. Kali ini author akan membawa kamu kembali ke beberapa dekade sebelumnya, untuk mengetahui sebuah peristiwa pembunuhan yang sangat mengerikan.

Bahkan peristiwa ini menjadi salah satu kasus pembunuhan paling mengerikan di Jepang! Kenapa? karena pembunuhan ini dilakukan oleh anak berusia 14 Tahun!!!

Kasus Kobe Child Murders

“Kōbe renzoku jidō sasshō jiken” atau Pembunuhan Anak di Kobe menjadi salah satu kasus pembunuhan tersadis yang tercatat dalam sejarah Jepang. Seperti namanya, kejadian tersebut terjadi di Kobe, Jepang, tepatnya di SD Tainohata.

Kejadian mengerikan dan traumatis itu terjadi pada 27 Mei 1997 silam. Dimana kepala salah seorang siswa SD Tainohata yang terpenggal ditinggalkan di depan gerbang.

Kepala itu adalah milik seorang anak bernama Jun Hase (土師 淳), salah satu siswa SD Tainohata. yang menjadi korban dari kesadisan Seito Sakakibara (酒鬼薔薇 聖斗) beberapa media memanggilnya “Shinichiro Azuma”, seorang anak berusia 14 tahun yang dengan kejam memenggal kepala bocah 11 tahun itu, dan meninggalkannya di depan gerbang sekolah.

Sakakibara Seito, Sang Pembunuh Kobe Child Murders

Tidak hanya memenggal kepala Jun Hase, ternyata beberapa bulan sebelumnya, Sakakibara pernah menyerang sekelompok anak perempuan dengan palu di Kobe pada tanggal 10-16 maret 1997, namun untungnya mereka semua selamat, kecuali seorang anak perempuan bernama Ayaka Yamashita (山下彩花).

Ayaka tewas mengenaskan karena diserang oleh Sakakibara menggunakan pisau dan kapak. Selain itu, ada anak perempuan berusia 9 tahun yang juga diserang dan mengalami banyak luka tusukan, untunganya ia dapat diselamatkan saat dibawa ke rumah sakit.

Baca Juga:  Tragedi Dyatlov Pass, Misteri Tewasnya 9 Pendaki Gunung Rusia

Yang lebih mengerikannya lagi adalah, selama jenggat waktu tersebut, ditemukan puluhan hewan mati, yang sebagian besar telah dimutilasi. Dan semua kejadian mengerikan itu dilakukan seorang diri oleh anak berusia 14 tahun!

Ditemukannya kepala di depan SD Tainohata

Kejadian tersebut meneror warga Kobe, hingga mencapai puncaknya pada 27 Mei 1997, di mana kepala seorang siswa berkebutuhan khusus, Jun Hase dipenggal dan ditinggalkan di depan gerbang SD Tainohata, satu jam sebelum para murid tiba.

Foto Korban Jun Hase

Bagian tubuh Jun dimutilasi, dan kepalanya dipenggal menggunakan gergaji sebelum sang pemubunuh memutuskan untuk meninggalkannya di depan gerbang agar dapat menjadi tontonan murid-murid lainnya.

Tidak sampai disitu, kasus mengerikan ini masih berlanjut ketika ditemukannya sebuah catatan merah di dalam mulut Jun, yang berisi kalilmat:

“Ini hanyalah permulaan dari sebuah permainan. Silahkan hentikan aku kalau bisa hei polisi bodoh. Aku tidak tahan untuk melihat orang-orang mati, rasanya benar-benar mendebarkan! Penghakiman berdarah dibutuhkan untuk kehidupanku yang pahit.”

Di dalam catatan mengerikan tersebut juga dikatakan bahwa membunuh adalah caranya untuk protes terhadap sistem edukasi jepang, dan diakhiri dengan 6 karakter kanji yang dibaca “Sakakibara Seito”.

Teror dari sang pembunuh Kobe Child Murders

Sebuah catatan juga dikirimkan oleh sang pembunuh ke redaksi koran Kobe Shinbun pada 6 Juni 1997, dan dalam kondisi teror yang  mengerikan, media Jepang tersebut tidak sengaja menuliskan nama Sakakibara menjadi “Onibara” yang artinya “Mawar Setan”.

Catatan Sakakibara Seito Yang Dikirmkan ke Media

Mengetahui hal tersebut, pembunuh keji itupun kembali mengancam bahwa ia akan membunuh 3 “sayuran busuk” (julukannya untuk anak berkebutuhan khusus) lagi jika media salah menuliskan namanya untuk kedua kali.

Saat itu polisi belum mengetahui identitas Sakakibara yang sebenarnya, dan terus melakukan pencarian hingga akhirnya pada 28 Juni 1997, seorang anak berusia 14 tahun tertangkap dan ditahan atas tuduhan pembunuhan Jun Hase.

Baca Juga:  Peti Mati Skotlandia yang Aneh dan Penuh Misteri

Karena saat itu dia masih di bawah umur, pihak berwenang dan media tidak dizinkan untuk mempublikasikan nama aslinya, sehingga mereka memutuskan untuk menyebutnya dengan nama “Boy A”.

Setelah di intergoasi, “Boy A” akhirnya mengakui juga bahwa ia telah membunuh Ayaka Yamashita serta menyerang 3 anak perempuan lainnya di hari yang sama. Di buku hariannya juga ditemukan sebuah catatan yang tak kalah mengerikan, yang berisi:

” Untuk membuktikan betapa rapuhnya jiwa manusia, aku melakukan suatu eksperimen suci hari ini.. Tepat saat anak perempuan itu berbalik menghadapku, aku menghantamkan palu ke wajahnya. Sepertinya aku juga sempat memukulnya lagi beberapa kali, namun aku tidak dapat mengingatnya karena terlalu bahagia.”

Pembebasan dan permintaan maaf

“Boy A” yang dengan bangga mengakui semua perbuatannya, dihukum dan dipenjara hingga akhirnya dibebaskan pada 1 Januari 2005. Di usianya yang kala itu menginjak 22 Tahun, ia menulis surat permintaan maaf untuk keluarga korban, namun isi surat tersebut tidak pernah dipublikasikan.

Kemudian pada tahun 2015 lalu, Seito Sakakibara atau Boy A atau Shinichiro Azuma, sang pembunuh Kobe Child Murders yang memang nama aslinya tak pernah diungkapkan oleh pihak berwenang, merilis sebuah buku autobiografi kontroversial.

Buku tersebut berisikan penyesalannya akan aksi kejinya di Kobe pada tahun 1997 silam. Di dalamnya juga menampakan berbagai perasaan Sakakibara saat melakukan aksinya itu.

Zekka Autobiografi Seito Sakakibara

Bisakah kamu bayangkan apa yang ada di pikiran seorang anak 14 tahun ketika melakukan aksi pembunuhan paling mengerikan dalam sejarah Jepang tersebut?

Author akan menutup artikel Kobe Child Murders ini dengan mengutip salah satu kalimat dari buku autobiografi yang ditulis oleh sang pembunuh, Seito Sakakibara, yang berjudul “Zekka”:

“Biarkan aku mengakui sesuatu: Menurutku, pemandangan saat itu sangatlah indah. Aku merasa aku lahir hanya untuk melihat keindahan yang ada di depan mataku. Aku pikir aku akan mati, tapi .. Aku sangat bahagia.”

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*