Wawancara Kerja

Wawancara Kerja

Kemarin aku mendapatkan email yang berisi sebuah panggilan untuk wawancara kerja, tapi isi dari email tersebut agak “aneh”. Yang membuat aneh adalah, wawancara kerja ini dilakukan tengah malam.

Namun karena aku sudah putus-asa menjadi pengangguran, maka aku langsung saja menerima panggilan itu. Ketika aku sampai di kantor tersebut, aku tidak melihat ada aktivitas sama sekali disana. ya sudah pasti sih, namanya juga tengah malam.

Gedung tersebut memiliki lahan parkir yang cukup luas, dan tempat ini menyatu dengan lingkungan distrik pabrik yang ada disekitarnya. Entah karena apa, aku langsung tidak menyukai tempat ini sejak pertama kali tiba, terasa ada yang aneh disini.

Satu-satunya penerangan disini hanyalah lampu berwarna oranye yang berasal dari lampu di depan gedung yang ku tuju itu. Aku merinding ketika melihat ke sekitar, takut jika di tengah kegelapan ini tiba-tiba ada seseorang yang merampokku, ya itupun jika para perampok berani datang ke tempat ini.

Ruangan Resepsionis

Aku-pun memutuskan untuk memasuki gedung tersebut. Interior didalamnya cukup normal, seperti gedung kantor pada umumnya, dinding putih yang bersih, dengan beberapa sofa di ruang tunggu.

Melihat hal ini, rasa raguku tadi mulai sedikit hilang, mungkin tadi hanya pikiran negatifku saja saat diluar. Aku dengan percaya diri berjalan menuju meja resepsionis. “Permisi, saya di sini untuk ..” ternyata tidak ada siapapun disana.

Dengan bingung, aku mencoba berjalan ke ruang tunggu, dengan pintu yang terbuka dan lampu yang menyala seharusnya ada orang disini, tapi ternyata kosong, tak ada siapapun disana.

Lalu bagaimana sekarang? aku sudah terlanjur sampai di sini dan ini sudah tengah malam. Apa aku harus mengelilingi seluruh gedung ini? tapi aku takut nantinya bukan manusia yang aku temui…

Ketika aku sedang berkutat dengan pikiran-ku sendiri, tiba-tiba aku mendengar suara dentingan gelas dari arah dalam gedung. Tak ada pilihan, karena sudah sampai disini aku masuk lebih dalam untuk mencari asal suara itu, mungkin saja itu karyawan yang masih bekerja di sini.

Aku mencoba membuka pintu di belakang ruang tunggu, tapi terkunci. lalu aku mencoba pintu yang ada diujung lorong, dan..  terbuka.

Ruangan Mesin

Ternyata ruangan di dalam sangat luas dengan penerangan yang remang-remang dan dipenuhi dengan mesin-mesin raksasa yang aku sendiri tak tahu gunanya untuk apa, tunggu.. bahkan aku tidak tahu ini perusahaan apa!

Di pojok ruangan besar ini, aku melihat cahaya kecil yang tampaknya berasal dari sebuah mesin yang sedang bekerja, dan ternyata ada seorang pria di dekatnya, mungkin dia operator mesin tersebut.

Perlahan aku mendekati pria tersebut. Ia tampak tidak menyadari kehadiranku karena sedang serius dengan pekerjaannya.

“Pe.. permisi?” ucapku

Ia mengabaikanku, mungkin ia tidak mendengarku karena suara mesin yang berisik ini.

Dengan sedikit berteriak aku berkata  “Halo pak, aku datang ke sini untuk wawancara kerja!” 

Pria itu menekan tombol di mesin tersebut, dan perlahan suara berisik tadi mulai menghilang. Ia melihat ke arahku dan terdiam beberapa saat.

“Oh, Bagus, bagus …” ucapnya, “Ini akan menjadi wawancara lapangan, mengerti?”

“Hmm .. o.. oke” Aku mencoba sebisa mungkin untuk terlihat tenang.

“Kau harus tahu, bahwa mesin ini butuh tangan yang cekatan.” ucapnya lagi.

“Maaf, saya tak paham …” jawabku.

Ia langsung menunduk, membuka kap mesin, dan menunjuk ke roda-roda bergerigi yang bercampur aduk dengan piston dan komponen lainnya. Aku tak mengerti apa yang sedang dia lakukan.

“Kau lihat itu? Kunci inggrisku terjatuh ke belakang sana, dan aku tak bisa menggapainya.”

Aku ikut menunduk mencoba melihat ke dalam mesin tersebut, dan sialnya ternyata dari dekat tubuh pria ini sangatlah bau. Udara di sekitar sini jadi terasa sangat lembab karena keringatnya tercampur dengan nafas aroma rokok dan minuman keras. Aku hampir tak bisa bernapas.

Aku mencoba bertanya dengan sopan “Apa anda ingin saya untuk mengambilnya?”

“Ya, tentu saja, aku tak bisa melakukannya.” jawabnya.

Ruang Mesin

Aku mencoba memikirkan baik-baik tentang hal ini. Mesin itu cukup lebar dan dalam, untuk mencapai bagian belakang dan mengambil kunci inggrisnya, aku harus sedikit merangkak masuk ke dalam. dan roda-roda bergerigi di sana akan membuat masalah besar untuk-ku jika mesin ini dinyalakan.

“Hmm.. Apakah tidak sebaiknya anda mematikan mesin ini dulu sepenuhnya, pak?” aku bertanya.

“Mesinnya sudah mati, nak.” jawabnya.

“Ta.. tapi tadi saya melihat anda menjalankannya …” tambahku.

“Ini hanya tombol untuk perawatan, mesinnya tidak bergerak. Sekarang cepat masuklah ke sana! Kau ingin pekerjaan ini atau tidak?” bentaknya.

Aku mengerutkan dahi, aku mencoba melihat lebih dekat pada kap mesin yang terbuka itu. Dari sudut mataku, aku bisa melihat pria itu menjilat bibirnya, dan itu membuatku sangat ketakutan, tapi bagaimana, aku juga membutuhkan perkerjaan ini.

Akhirnya, Aku mencoba memasukkan tanganku ke dalam, berusaha agar tidak menyentuh bagian-bagian bergerigi yang kapanpun bisa menyala dan membuatku kehilangan tangan ini. Namun ternyata tak bisa. Ia benar, aku harus memasukkan seluruh tubuhku ke sana untuk bisa menggapainya.

“Ayolah, cepat masuk ke dalam sana!” ia bersikeras, dan aku bisa merasakan nada bersemangat dari ucapanya tersebut.

Aku mencoba mencondongkan badanku beberapa inci untuk masuk. Di dalam ruangan sempit itu aku bisa melihat piston dan tabung tepat disamping kepalaku. Tapi aku tak bisa melihat ada kunci inggris di bagian belakang mesin ini.

Gear Mesin

Tiba-tiba pikiran negatifku muncul, Ia bisa saja menutup pintu kap mesin begitu aku berada di dalamnya, dan mengurungku. Kemudian begitu aku di dalam, dia akan menyalakan mesin ini, lalu tanpa berdaya tubuhku akan terkoyak dimakan oleh roda-roda bergerigi tersebut.

“Ah sial, tak ada pekerjaan yang setimpal dengan semua ini” Pikirku.

Aku langsung mengeluarkan tubuhku dari mesin itu. “Maaf, Bung. Saya harus pergi …”

Dalam kondisi tersebut-pun aku masih mencoba berpamitan dengan cara yang paling sopan. Aku langsung berjalan cepat menuju keluar. Sesampainya diluar perasaanku sangat lega, pikiranku jadi lebih tenang merasakan udara dingin dan hawa segar di luar. Rasanya malah jadi berbeda dari ketika aku datang tadi.

Sambil berjalan pulang, aku berpikir, apakah pikiranku terlalu berlebihan sehingga menolak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan? Ketika sampai dirumah dan pikiran sudah kembali ke kondisi tenang, aku malah merasa bodoh, dan takut telah menyinggung perasaan pria tadi.

Aku kembali ke kamar dan memeriksa komputer-ku sebentar sebelum tidur. Ternyata, ada sebuah email yang masuk ke inbox-ku. Jantungku seketika itu terasa berhenti ketika aku membaca isi email tersebut,

Ternyata itu email dari kantor tadi, dan berisi ..

Maaf, kami mengirimkan email wawancara kerja ke alamat yang salah.

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *