CreepyPasta Kunekune

Cerita horor ini menceritakan tentang dua orang anak yang bertemu dengan sosok Yokai yang disebut KuneKune. 

•••

Sekitar 20 tahun yang lalu, ketika aku masih kecil, mungkin di taman kanak-kanak, aku melihat Kunekune.

Ayah, adik, dan aku sendiri terkadang pergi ke gunung untuk piknik. Gunung itu tepat di dekat rumah kami, tetapi itu bukan milik kami sehingga kami harus menyelinap masuk, haha.

Bagaimanapun, aku tidak terlalu suka kegiatan outdoor, jadi aku tidak ingin pergi, tetapi ayahku berjanji membelikan minuman saat di jalan nanti. Aku mendapat cola, sementara adik laki-lakiku mendapat susu rasa kopi. Itulah satu-satunya alasan kami pergi bersama.

Dalam perjalanan kami mendaki gunung, ayah kami menunjukkan hal-hal seperti hidung tengu, dan kitsune (yang sebenarnya, hanya buah merah). Kami bersenang-senang.

Sampai saat ini masih kuingat dengan jelas, tetapi setelah itu, ayah kami menghilang. Meninggalkan aku dan adikku.

Dengan hilangnya ayah kami, kami cemas. Aku meraih tangan adikku dan menariknya ke puncak gunung, menangis dan berpikir ayah kami mungkin berada jauh di depan kami.

“Maa-kun, apa itu?” Adikku menunjuk sesuatu sekitar 100 meter di depan. Sesuatu berwarna abu-abu bergoyang-goyang di antara pepohonan. Kami telah mendaki gunung ini berkali-kali tetapi belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.

Kakinya menggeliat seperti sedang menari, tetapi Aku tidak bisa melihat wajahnya.

Lalu aku teringat sesuatu. Untuk ulang tahunku, ayahku membelikanku sepasang teropong. Itu ada di tasku. Aku benar-benar ingin tahu makhluk apa itu, jadi aku membuka tasku dan mengeluarkan teropongnya.

“Biarkan aku melihatnya, biarkan aku melihatnya!” kata adikku, tapi aku memberitahunya “nanti!” dan mengintip makhluk tersebut melalui teropongku. Dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan bahkan dalam mimpi terliarku.

Untuk satu, mungkin dua menit aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari benda itu, meskipun aku tidak ingin melihatnya lagi. Jika adikku tidak terus memanggil namaku, apa yang akan terjadi padaku, menatap benda itu sendirian? Aku pikir aku mungkin sudah gila.

Yang bisa ku deskripsikan adalah. Makhluk itu tidak menari.

Dia… kesakitan.

Aku melihat wajah-wajahnya. Ya. ada banyak wajah! Pria, wanita, anak laki-laki, anak perempuan, pria tua, wanita tua, itu berubah-ubah, seperti gambar slide yang berganti pada interval satu detik.

Namun semua dari mereka kesakitan.

Aku melempar tasku, meraih adikku dan berlari kembali menuruni bukit. Kami tersandung berkali-kali, tetapi aku jauh, jauh lebih takut akan makhluk itu daripada rasa sakit. Kami bertemu dengan seorang lelaki tua di jalan, tetapi yang bisa kami pikirkan hanyalah turun dari gunung secepat mungkin.

Setelah beberapa menit aku melihat gerbang kuil yang familiar.

“Keluar!”. Pada saat itu, sebuah suara di belakang kami memanggil.

Itu ayah kami, dan untuk beberapa alasan dia berteriak. Kami berlari ke arahnya, menangis, dan aku mencoba yang terbaik untuk memberitahu dia tentang hal menggeliat yang aku lihat di antara pepohonan, tetapi aku tidak bisa.

Menurutnya, dia memalingkan muka sejenak dan kami menghilang. Rupanya kami berkeliaran tanpanya.

Aku telah kembali beberapa kali ke gunung sejak hari itu. Aku merasa seperti aku mungkin akan bertemu makhluk itu lagi.

Tapi satu hal yang pasti, Legenda Urban Kunekune ternyata benar-benar nyata.

There are things known and there are things unknown, and in between are the doors of perception ~

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top
error: Alert: Konten Dilindingi !!