Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta

Museum Sejarah Jakarta, atau yang lebih kita kenal sebagai Museum Fatahillah merupakan sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Bangunan ini menyerupai Istana Dam, di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Pada zaman penjajahan Belanda, Museum Fatahillah adalah balai kota Batavia yang merupakan pusat aktivitas rakyat pada abad ke 17-19. Di halaman depan balai kota, terdapat satu-satunya mata air yang biasa digunakan warga untuk mendapatkan air bersih.

Selain aktivitas tersebut, balai kota juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati dan pembantaian massal. Saksi bisu dari pemerintahan yang brutal. Banyak tahanan yang telah dinyatakan bersalah dihukum gantung tepat di depan gedung ini.

Pada tahun 1740, Adriaan Valckenier, Gubernur Batavia saat itu, memerintahkan untuk membantai orang Tionghoa di depan balai kota. Ribuan orang Tionghoa diikat, duduk bersimpuh di depan balai kota, kemudian dari jendela balai kota, gubernur itu memberi kode untuk melakukan eksekusi terhadap mereka.

Isu ekonomi dan isu politik yang berkembang di Batavia diduga sebagai penyebab pembantaian masal tersebut, atau yang kita kenal dengan “Geger Pacinan”.

Penjara Bawah Tanah Batavia

Selain pembantaian tersebut, Museum Sejarah Jakarta juga telah menjadi saksi bisu dari penderitaan para tahanan di penjara bawah tanah untuk pria dan wanita. Ketika air laut pasang, penjara akan terisi dengan air laut, merendam tubuh para tawanan dan hal inilah yang membuat kondisi para tahanan sungguh menyedihkan.

Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien, merupakan dua Pejuang Indonesia yang sempat ditahan di penjara tersebut.

Ada juga sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang pemberontak, bernama Pieter Erberveld, yang dihukum mati di halaman selatan Benteng Batavia dengan cara yang kejam.

Kedua tangan dan kaki Erberveld beserta rekan-rekannya, diikat pada tali tambang. Keempat ujung tali tambang kemudian diikatkan pada kuda-kuda pilihan yang sangat kuat. Lalu, kuda-kuda tersebut dipecut hingga berlari ke arah yang saling berlawanan dan akhirnya membuat tubuh Elberverd dan rekan-rekannya terkoyak.

Kalian bisa melihat catatan peristiwa tersebut di monumen pecah kulit yang berada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Monumen Pecah Kulit Museum Fatahilllah

Banyak sekali kisah kelam yang terjadi pada masa lalu Museum Fatahillah, sehingga menjadikan bangunan ini penuh dengan misteri dan kental akan aura mistisnya.

Masyarakat sering mendengar suara suara aneh, menghirup bau amis darah, hingga sesosok bayangan hitam yang sering menampakan diri. Ada juga yang pernah melihat sosok 3 anak kecil dengan rupa yang hancur, serta ada sesosok pria dan wanita yang sering menampakan dirinya dengan busana khas belanda.

Dalam catatan sejarah juga dituliskan bahwa digedung ini terdapat satu lonceng sebagai tanda untuk mengeksekusi tahanan, lonceng ini juga disebut sebagai “Lonceng Kematian” 

Ketika lonceng ini berbunyi sekali, itu menandakan tahanan sedang digiring ke ruang pengadilan, Dua kali bunyi lonceng menandakan tahanan telah berada di atas podium pengadilan, dan Tiga kali bunyi lonceng menandakan eksekusi akan dimulai dan disaksikan oleh pejabat serta hakim pengadilan.

Sekarang, saat malam hari dan ketika kalian sedang beruntung, mungkin kalian bisa ikut mendengar bunyi lonceng tersebut. Bahkan terkadang bunyi yang terdengar bisa sampai tiga kali tanpa tahu siapa yang membunyikannya.

Misteri Museum Fatahillah

Misteri Museum Fatahillah tidak berhenti sampai disana saja. Ternyata ada sebuah ruangan rahasia yang terdapat di sebelah ruang pertunjukan.

Ruangan ini ditemukan sejak 2010 lalu, dan terdapat mural yang sangat indah eksotis pada dinding ruangan ini, namun lukisan mural tersebut baru setengah jadi dikarenakan dinding yang lembab akibat terembes air laut sehingga cat pada mural tak bisa menempel secara utuh.

Mural itu menggambarkan Batavia era 1880-1920 dan dibuat oleh pelukis Harijadi Sumodidjojo dan S. Sudjojono di tahun 1974 atas perintah Ali Sadikin (gubernur Jakarta pada masa itu). Ruangan ini secara tak sengaja ditemukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam komunitas pecinta sejarah (salah satunya Sisco, keturunan langsung dari Thomas Sang Hiu Perkasa).

Mural diruangan Rahasia Museum Fatahillah

Namun sekarang, Dengan segala kisah kelam masa lalu dan misteri yang tersimpan didalamnya, Museum Sejarah Jakarta tetap bediri kokoh, di usianya yang sudah sangat tua bangunan ini tetap terlihat anggun dengan nuansa klasiknya dan sekarang menjadi saksi bisu para wisatawan yang menikmati kemegahannya.

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *