Pria Yang Melarikan Diri

Pria Yang Melarikan Diri

Creepypasta ini menceritakan mengenai seorang pengemudi mobil yang memberi tumpangan kepada seorang asing yang ia temui di tengah jalan saat cuaca sedang badai. 

– Pria Yang Melarikan Diri –

Hujan turun dengan deras. Rasanya seperti mengemudi melalui tirai air yang tebal. Sang pengemudi menurunkan tekanan pedal gas sedikit. Harus berhati-hati di malam yang liar seperti ini karena hal terakhir yang dia inginkan bukanlah mengalami kecelakaan atau kerusakan serius. Dia hanya ingin berada di rumah pada malam badai ini.

Suara “thwack-thwack” dari wiper kaca depan sangat menghipnotis. Dia menatap ke dalam cahaya lampu depan. Hujan terdengar seperti gangguan white noise saat mengguyur mobil, mengingatkannya dengan adegan pembukaan berbagai film Hitchcock.

Melalui sapuan hujan dia melihat sesosok tubuh di pinggir jalan.

Orang itu mengenakan jaket hijau dan ibu jarinya diacungkan. Mengapa ada orang yang ingin menumpang malam-malam begini? Tentunya siapapun harusnya ada di rumah sampai pagi. Orang itu pasti terburu-buru untuk pergi kemanapun dia ingin pergi.

Sang pengemudi memberi tanda dan menepi.

Penumpang itu masuk. Dia menutup pintu dengan cepat, senang bisa berlindung dari badai di luar. Dia menarik kerudungnya ke belakang dan menghela nafas. Dia pasti berusia pertengahan dua puluhan, dia memiliki rambut merah dan janggut tebal.

“Malam yang mengerikan, ya?” Kata sang sopir. Penumpang itu tidak mengalihkan pandangannya untuk beberapa saat.

“Ya. ya kau benar.” 

Sopir itu kemudian menginjak pedal gas kembali, dan melanjutkan perjalanan melewati badai. Penumpang itu membalikan tubuhnya dan menatap ke kegelapan di belakang mereka.

Sopir itu menatapnya dan bertanya “Apa kau baik-baik saja?”

Penumpang itu hanya mengangguk. Mereka melaju dalam diam untuk beberapa saat. Radio BBC kemudian berbunyi dari speaker mobil, mengisi kekosongan di sana. Mereka mendengarkan radio dan pikiran mereka sendiri saat melanjutkan perjalanan.

“Mau kemana?” Tanya sopir.

“Arah Utara.” Penumpang itu menunjuk ke arah yang dia bicarakan.

“Apakah kau bepergian untuk mengunjungi teman?”

“Hmph.”

Sang sopir tidak tahu apakah itu jawaban ya atau tidak. Dia mengatur dasinya dengan gugup. Penumpang itu menatap sang sopir yang mengenakan jas dan dasi. yangtampak bagus jika dibandingkan dengan pakaian lusuh yang dia kenakan, jaket hijau lapuk dan kaos Pink Floyd.

“Apakah kau bekerja di sekitar sini,” tanya si penumpang.

“Ya,” kata sopir itu. “Aku terjebak lembur di kantor, dan kau pasti tahu bagaimana rasanya.”

“Tidak juga.”

Sekali lagi mereka terdiam.

Acara radio bincang-bincang berlanjut saat mereka melewati angin dan hujan. Penumpang itu bergeser di kursinya dan menatap ke luar kaca depan.

“Tidak ada musik?” Penumpang itu bertanya.

“Apa?”

“Apakah tidak ada musik yang bisa kita dengarkan?”

“A-Aku bukan penggemar musik. Aku suka acara radio bincang-bincang.”

Mata penumpang itu berkaca-kaca sejenak. Lalu dia berbicara. “Aku suka mendengarkan musik. Itu menenangkanku.”

Sopir itu tidak berkata apa-apa. Beberapa mil kemudian, ada buletin berita di radio. Reporter berusaha tetap profesional saat dia membaca pengumuman itu. “Kami mendapat laporan bahwa seorang pria telah melarikan diri dari institusi psikiatri Manchester. Pria itu dikatakan psikopat dan dikatakan memiliki riwayat pembunuhan.”

Penumpang itu menggerakan jarinya ke tombol di panel radio. Musik pop nyaring segera terdengar dari speaker.

Sopir itu menatap penumpang itu, bertanya-tanya dengan pertanyaan yang tak bisa dia ungkapkan

“Aku benci beritanya,” kata penumpang itu. “Itu sangat menyedihkan, membuatku tak nyaman. Tidak pernah ada kabar baik, kan?”

Sopir itu tidak menjawab.

“Jangan khawatir, aku mungkin bukan pembunuhnya,” kata penumpang itu, dengan gelisah memakai mantelnya.

“Benarkah?” Kata sopirnya. “Maksudku, bukan, tentu saja bukan.”

Mereka terus melaju, mendengarkan musik pop yang jelek dan DJ radio yang terlalu bersemangat. Hujan terus mengguyur mobil.

“Apa pekerjaan yang kamu lakukan?” Tanya sang sopir.

Penumpang itu terdiam beberapa saat. Lalu dia menyeringai. “Aku seorang penulis.”

“Benarkah? Menarik sekali. Apa ada yang sudah diterbitkan?”

“Tidak, sampai saat ini statusku masih seorang seniman yang belum ditemukan.”

“Aku yakin kamu akan berhasil. Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?”

“Buku.”

“….buku?”

“Tentang pembunuh berantai yang brutal.”

Sopir itu tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia menyalakan kembali stasiun radio bincang-bincang. Seorang pria mengoceh tentang perubahan hari-hari mengenai pembuangan sampahnya.

“Di mana aku bisa menurunkanmu?” Tanya sang sopir.

Penumpang itu tidak menjawab apa-apa.

Ketika sopir itu melihat ke samping, dia melihat penumpangnya ternyata menutup mata. Dia entah tertidur, atau pura-pura tidur.

Mereka melaju melewati badai menyusuri jalur yang berkelok-kelok. Satu jam kemudian, badai masih berkecamuk. Penumpang itu membuka matanya dan melihat ke luar jendela, sedangkan sang sopir menyetir dengan hati-hati dalam diam.

Buletin berita lain terdengar di radio.

“Kami mendapatkan lebih banyak informasi tentang pasien yang melarikan diri ini. Namanya adalah Simon Hughes. Dia melarikan diri dari Green Pastures Institute tadi malam. Dia sangat berbahaya dan sama sekali tidak dapat diprediksi. Hughes melarikan diri dengan mengganti pakaian pasien rumah sakit. menjadi pakaian bisnis untuk menyamar sebagai salah satu staf medis. Dia kemudian mencuri mobil dan pergi. “

Penumpang itu menoleh ke sang sopir.

“Siapa namamu tadi?”

“Namaku Simon.”

Penumpang itu menatap dengan kaget. Simon menyeringai. Lampu depan sedan yang melewati mereka dari arah berlawanan menyinari bilah pisau di tangannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*