Legenda Urban Jepang: Kotoribako (Part 1)

Legenda Urban Jepang Kotoribako Part 1

Aku adalah tipe pria yang suka melihat blog-blog di waktu luang. Secara pribadi, aku tidak memiliki kemampuan untuk melihat hantu sama sekali. Aku tidak pernah berpikir aku akan berada di sini menulis sesuatu seperti ini.

Namun aku datang untuk memberitahumu tentang sesuatu yang terjadi padaku bulan lalu. Untuk berjaga-jaga, aku sudah memiliki izin dari semua yang terlibat saat menceritakan kisah ini. Aku pikir orang-orang yang ada di blog ini lebih mungkin untuk percaya dengan apa yang kukatakan, jadi tolong dengarkan.

Kotoribako

•••

Tokoh protagonis dari cerita ini adalah salah satu temanku yang memiliki kemampuan kuat untuk merasakan hal-hal gaib. Kami sudah berteman sejak SMP dan kami masih sering pergi minum bersama, meskipun kami berada di puncak usia tiga puluh.

Keluarganya telah bekerja sebagai pendeta Shinto di kuil yang agak besar di tempat kami tinggal selama beberapa generasi sekarang.

Biasanya mereka memiliki pekerjaan tetap, tetapi pada saat-saat seperti Tahun Baru atau Upacara Pernikahan, mereka bekerja sebagai pendeta Shinto sebagai semacam pekerjaan sampingan (atau mungkin memang itu pekerjaan utama mereka?). Keluarganya cenderung tinggal dekat dengan kuil.

Jadi, suatu hari kami memutuskan untuk pergi minum dan berkumpul di rumahku terlebih dahulu. Temanku dan pacarnya yang pertama kali tiba, dan kami memainkan beberapa video game sambil menunggu teman wanita yang lain muncul.

Perlu kamu perhatikan disini bahwa aku akan memanggil temanku yang dari kuil dengan inisial “M”, pacar M akan kupanggil “K”, wanita yang datang terlambat “S”, dan aku sendiri dengan “A”.

Kami bermain game sebentar sambil menunggu, lalu aku mendapat telepon dari S-chan.

S-chan: “Maaf, aku akan sedikit terlambat. Kami menemukan sesuatu yang menarik di gudang dan keluargaku membungkusnya. Kau pandai dalam puzzle dan teka-teki, bukan? Aku akan membawa sesuatu yang menarik. Aku akan kesana sebentar lagi!”

Sekitar 40 menit kemudian, S-chan tiba. Lalu, pada saat itu… atau lebih tepatnya aku harus mengatakan saat mobil S-chan berhenti di halaman luar, M tiba-tiba berkata, “Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Tidak mungkin … apa yang harus aku lakukan … ayah sedang keluar hari ini. ”

Aku: “Ada apa? Apakah kamu melihat sesuatu lagi?”

K: “Lagi?”

M: “Bukan itu… A.. ini buruk, S-chan … apa dia benar-benar serius…”

M bisa melihat hantu, tapi dia biasanya tidak bereaksi seperti ini ketika dia melihat mereka atau apa pun tentang pekerjaan kuilnya. Tapi belakangan ini, dia sering gemetar dan histeris. Kami semua tahu itu, tetapi karena aku tidak ingin M tertekan atau terpaksa membahasnya karena kami, kami mencoba untuk tidak membicarakannya.

Ketika S-chan masuk, wajah M langsung pucat.

M: “S-chan… apa yang kamu bawa? Tunjukkan kepadaku! ”

S: “Hah? kau kenapa? Apakah kau mencoba memberitahuku bahwa aku membawa sesuatu yang berbahaya ? Gudang akan dihancurkan minggu depan, jadi kami menemukan ini saat membersihkan…”

S-chan kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu. Sebuah kubus dengan panjang sekitar 20 cm. Jadi inilah yang dia maksud di telepon ketika dia menyebutkan puzzle dan teka-teki. Benda itu terbuat dari balok kayu kecil, seperti potongan Tetris.

M: “Jangan sentuh! Jangan menyentuhnya!”

Saat itu, M langsung lari ke toilet. Kami bisa mendengarnya muntah. K mengikutinya dan menggosok punggungnya saat dia membungkuk di atas toilet. Setelah selesai, M kembali dan dengan gemetar mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.

M: “Ayah… ada Kotoribako. Temanku membawakan kotoribako… aku takut. Aku tidak seperti kakek, aku tidak bisa melakukannya seperti dia…”

Baca Juga:  Legenda Urban Repleh Snatas, Situs Mengerikan yang Berhantu Bahkan Dikutuk

M mulai menangis. Aku bisa menduga apa yang S-chan bawa sangat mengerikan hingga pria 29 tahun ini harus menelepon ayahnya sambil menangis…

M: “Ya, itu tidak ada. Aku tidak bisa melihat apa pun selain kotaknya. Ada bukti bahwa itu pernah di sana, tapi sepertinya sudah hilang sekarang… Ya, ada sesuatu di sana, di dalam perut temanku. Aku pikir itu bentuk shippou. Shippou, kan? Ada segitiga di dalamnya… Itu benar shippou, tidak diragukan lagi… Aku sudah bilang aku tidak tahu! Aku tidak seperti itu!”

Aku mendengar banyak istilah teknis yang tidak ku mengerti, tetapi yang paling menonjol adalah kata Kotoribako dan Shippou.

M: “Baiklah, Aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya. Jika salah, Ayah harus melakukan pemurnian. Aku mengandalkanmu.”

M menutup telepon, lalu menangis tersedu-sedu selama beberapa menit berikutnya. Dengan dadanya yang naik turun karena isak tangisnya, dia duduk dengan gaya seiza dan berkata, “Oke, ayo lakukan ini,” dan menampar lututnya sendiri. Dia tidak lagi menangis. Dia siap melakukan apapun yang perlu dia lakukan.

M: “A… Ambilkan aku pemotong kotak atau pisau.”

Aku : “A-apa yang akan kamu lakukan?”

M: “Aku tidak akan membunuh siapa pun. Aku perlu “membersihkan” S-chan. S-chan, lihat aku. Mungkin sia-sia untuk memberitahumu untuk tidak takut, tapi jangan takut, oke. K dan A, kalian juga harus kuat! Tidak ada yang perlu ditakuti! Aku tidak akan kalah! Kamu pikir aku akan kalah, ya?! Jangan takut! Jangan takut! Jangan meremehkanku! Aku akan melakukannya! Kakek, aku akan melakukannya! Lihat saja! Sialannn!”

M berteriak keras, mencoba menghilangkan ketakutannya sendiri. S-chan hampir menangis… Dia ketakutan setengah mati. Baik aku dan K juga hampir menangis. Sejujurnya, aku bahkan hampir mengompol karena hal ini…

S: “Oke… oke. Aku akan melakukan yang terbaik.”

Kami tidak tahu apa yang terjadi, tetapi S terus mengatakan berulang kali bahwa dia mengerti.

M: “A, berikan aku pemotong kotak atau pisau.”

Aku menyerahkan pisau kepada M dengan tangan gemetar.

M: “A, Aku ingin kamu mencubit bagian dalam pahaku, sekeras yang kamu bisa! Sekeras yang kamu bisa!”

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang bisa kulakukan hanyalah melakukan apa yang dikatakan M. Aku mencubit bagian dalam pahanya, dan saat saya melakukan ini, M menyayat ujung jari dan telapak tangannya dengan pisau. Dia mungkin menyuruhku mencubitnya untuk mencoba menutupi rasa sakit itu.

M “S-chan! Buka mulutmu!”

M memasukkan jarinya yang berlumuran darah ke dalam mulutnya.

M: “S-chan, minum. Bahkan jika rasanya tidak enak, Kamu harus meminumnya. ”

S: “Ah… gu…”

S-chan menangis. Dia tidak bisa berbicara.

M: “…notenjou, norio, shinmeiiwato akemashita, kashikomikanshikomimomamousu…”

Kedengarannya seperti semacam doa atau mantra, tapi dia mengulanginya lima atau enam kali. Itu terdengar lebih seperti hafalan daripada mantra.

S: “Uweeeeeeeee.”

Begitu M menarik jarinya keluar dari mulut S-chan, dia memuntahkan sesuatu yang berlumuran darah.

M: “Sudah keluar! Sudah keluar! Ok! Kamu akan baik-baik saja! S-chan, kamu akan baik-baik saja! … Lanjut…!”

M meletakkan tangannya yang berlumuran darah di atas kotak yang dibawa S-chan.

M: “Kotoribako kotoribako… Ini tidak bagus… Tidak bagus… Harus melakukannya dengan benar.”

M tampak seperti akan menangis lagi.

M: “A! Telepon ayahku sekarang.”

Aku meraih teleponnya dan menelepon ayahnya seperti yang dia minta, lalu menempelkan telepon itu ke telinganya.

M: “Ayah, maaf, aku lupa. Maukah kau mengucapkan mantranya denganku?”

Dengan telepon di dekat telinganya dia meletakkan tangan kanannya di samping kotak, dan empat atau lima kali dia mengucapkan sesuatu seperti mantra lagi. Itu benar-benar terdengar seperti dia sedang membacakan puisi atau semacamnya.

Baca Juga:  Aokigahara, Hutan Paling Angker dan Berhantu di Jepang

M mengulangi semuanya dengan perlahan, seperti sedang diinstruksikan. Kemudian, akhirnya dia berkata, “Sudah selesai. Selesai. Semuanya sudah berakhir… errrrr.”

M menangis tersedu-sedu. K mencoba menghiburnya, tetapi selama 20 menit dia menangis. Kami berempat akhirnya menangis bersama, tetapi sepanjang waktu M memastikan untuk tidak melakukan kontak dengan kotak itu.

Setelah semua orang tenang, M bertanya apakah aku punya handuk atau sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengikat kotak itu ke tangannya. Aku memberinya handuk mandi tipis, dan dia membungkusnya di sekitar kotak itu.

M: “… Oh iya. Jadi kita mau minum dimana?”

Semua orang: “Huh?”

M: “Aku bercanda. Kita harus menyudahinya di sini. A, bisakah kamu mengantarku pulang?”

(Seberapa kuat orang ini? Dia benar-benar memiliki mental baja.)

Semua orang kelelahan, jadi aku mengantar mereka pulang dan kami berpisah untuk malam itu.

Kemudian, sekitar delapan hari kemudian M rupanya mengambil cuti kerja. Aku bertemu dengannya kemarin dan kami berbicara tentang apa yang terjadi saat itu.

M: “Uhh mari kita lihat. Keluarga S-chan mungkin tidak akan menyukai apa yang akan kukatakan, tapi ada desa di atas Gunung O. Mereka memiliki kotak seperti itu di atas sana. Ayahku membawanya ke sana dan mereka telah mengurusnya. Kamu lebih baik tidak mengetahui hal lain tentang itu. ”

Sepertinya dia tidak ingin membicarakannya lagi. Tidak peduli berapa banyak aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dia tidak akan memberitahu ku lagi.

Dia hanya mengatakan satu hal terakhir.

M: “Di dalam kotak itu ada “kebencian” itu sendiri. Tapi ya, ada beberapa hal lain di sana, seperti ujung jari dan tali pusar… Kita sama sekali tidak boleh menyakiti orang, dendam adalah hal yang paling menakutkan. Mereka bisa pergi dan membuat sesuatu seperti itu, kau tahu? Setiap kali kotak seperti itu muncul, kakekku yang menanganinya. Dia berurusan dengan banyak hal seperti itu selama masa hidupnya, tetapi aku tidak pernah berpikir aku harus melakukannya juga. Aku lebih sering bermain-main dan tidak pernah benar-benar mengambil bagian dalam pekerjaan keluargaku, jadi aku ketakutan. Aku benar-benar perlu belajar lebih banyak, tapi hei, sepertinya aku juga tidak memiliki bakat untuk itu. Dan ya, aku menyebutkan desa dan semacamnya… tapi S-chan baik-baik saja sekarang, sama seperti sebelumnya. Kita tidak hidup di zaman itu lagi. Betapa bodohnya.”

Aku: “Tentu saja! Tapi kesampingkan itu, apakah kamu keberatan jika aku menceritakan kisah menyenangkan ini kepada orang lain?”

M: “Kamu sangat suka cerita seperti ini ya? Meskipun kamu sendiri tidak bisa melihat hantu, haha. ”

Aku: “ Justru karena aku tidak bisa melihat hantu, aku suka cerita seperti ini.”

G: “Ya, aku tidak keberatan. Ini tidak seperti orang akan dihantui hanya karena kamu membicarakan atau menceritakannya. Dan kurasa tidak ada yang akan mempercayaimu, mereka hanya akan menyebutmu pembohong dan aku sendiri hanya akan berpura-pura tidak tahu.”

Dan, itulah akhir dari pengalaman aneh yang ku alami.

 

Hari-hari terus berjalan, dan aku sempat mengambil kesempatan untuk menanyakan M beberapa hal yang ku lupa saat kami berbicara di telepon kemarin:

1. Selain S, apakah yang ada di tempat kejadian (artinya Aku dan K) akan baik-baik saja?
2. Apakah seluruh keluarga yang menyentuh kotak itu sebelum sampai di rumahku juga akan baik-baik saja?
3. Sebenarnya Kotak apa itu?

There are things known and there are things unknown, and in between are the doors of perception ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
error: Alert: Konten Dilindingi !!