Tepuk Tangan

-Tepuk Tangan- Sepasang Suami-istri tak sengaja tersesat karena masuk terlalu jauh ke dalam hutan ketika mereka sedang mendaki gunung. Hari yang semakin gelap, membuat mereka enggan untuk berjalan lebih jauh karena dapat membahayakan diri mereka.

Dengan sisa-sisa tenaganya, mereka mencoba menapaki lebatnya hutan berharap dapat menemukan jalan keluar sebelum malam benar-benar tiba.

Namun, jalan keluar dari hutan tersebut tetap tidak mereka temukan, namun perjuangan mereka tidak sia-sia, di depan sana terlihat samar-samar sebuah cahaya dari pondok, yang entah bagaimana bisa berada di tengah huntan tersebut.

Karena sudah sangat lelah, mereka segera menuju ke pondok tersebut, dan masuk ke dalam untuk mengistirahatkan tubuh mereka.

Dari luar, pondok tersebut memang terlihat sudah tua, tapi ternyata masih kokoh, di dalam juga ada banyak perabotan yang masih bagus dan tertata rapi, hanya sedikit berdebu. Mereka bingung, kemana penghuni pondok ini, tidak mungkin pemiliknya meninggalkan pondok ini begitu saja, dengan perabotan yang masih bagus.

Namun mereka tidak mau ambil pusing, mereka sudah sangat bersyukur tidak terjebak di tengah hutan yang gelap bersama dengan hewan buas yang siap menerkam kapan saja.

Karena sudah sangat lelah, sang istri segera mengajak suaminya untuk tidur, mengumpulkan tenaga agar besok dapat melanjutkan perjalanan untuk keluar dari hutan ini.

Namun sesaat sebelum mereka terlelap, sang suami mendengar suara langkah kaki seperti mengelilingi pondok tersebut. Seketika itu juga sang suami langsung beranjak membuka jendela sambil berteriak “Siapa disana!?”

Tak ada jawaban, hanya keheningan yang ada disana. Sang suami pun menutup jendelanya dan kembali berbaring, namun tidak lama, terdengar lagi suara langkah kaki itu, kali ini semakin keras, sang suamimu pun langsung membuka jendela dan bertanya untuk kedua kalinya.

“Hey, Apakah disana ada orang!?” kali ini hanya suara angin yang menjawabnya.

Melihat hal itu sang istri berpendapat “Mungkin dia tidak bisa berbicara”.

Sang suami berpikir mungkin perkataan istrinya benar. Kemudian sang suami pun mendapatkan ide bagaimana cara berkomunikasi dengan makhluk diluar sana.

“Apa ada orang di sana ?” tanya sang suami, Tepuk tangan mu sekali jika “Ya”, dan dua kali jika “Tidak”.

Setelah beberapa saat terdengar suara tepukan “Claps”.

Tepuk Tangan

“Apa kau pemilik pondok ini?” tanyanya lagi.

“Claps, Claps”.

“Dia bukan pemilik pondok ini” bisik sang istri.

Sang suami bertanya kembali “Apakah kau seorang laki-laki?”

“Claps, Claps”,

“Berarti kau perempuan?”, tanyanya lagi

“Claps, Claps”.

Mereka bingung dengan jawaban itu, dengan sedikit rasa takut sang suami mencoba bertanya kembali, “Apakah kau seorang manusia?”

“Claps, Claps”.

Mereka berdua terkejut. Rasa penasaran yang awalnya menghinggapi mereka berubah menjadi rasa takut yang luar biasa. Dengan suara bergetar sang suami bertanya “Apa kau sendirian?”

“Claps, Claps”.

Bukan Manusia

Sang suami melanjutkan pertanyaannya “Aa.. Ada berapa banyak temanmu disana saat ini? satu tepukan untuk setiap satu temanmu.”

“Claps..”
.

.

.

.

.

“Claps”

“Claps”


“Claps”

“Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps”

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *