Ashatikane

Ashatikane
CreepyPasta Indonesia

Aku seorang pria, dan seorang turis yang kala itu sedang menikmati liburan musim panas di Jepang. Negara ini memiliki beragam kebudayaan yang indah dan menarik untuk kupelajari. Ya .. itulah anggapanku sebelum mengenal sebuah permainan atau ritual? yang takkan pernah kulupakan selama aku masih hidup.

Setelah mencari beberapa informasi, banyak yang menyebut permainan itu dengan nama Ashatikane atau semacamnya, logat mereka tidak mudah untuk ditiru. Menurut beberapa kenalanku yang kuceritakan tentang pengalaman mengerikan ini mengatakan bahwa itu adalah permainan kuno yang sudah ada sejak jaman dulu dan disebut sebagai “Perjalanan Kematian”.

Sebenarnya permainan tersebut adalah sebuah ritual atau tradisi yang digunakan untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal. Dalam ajaran Shinto, orang-orang yang sudah meninggal tidak akan langsung pergi ke “alam lain”. namun mereka akan mengikuti siapapun orang yang mereka sukai ketika masih hidup di dunia.

Begitulah secara garis besar inti dari Ashatikane, aku tidak akan menjelaskannya lebih detail lagi, jadi aku akan langsung menceritakan kepada kalian mengenai pengalamanku mengenal permainan mengerikan ini.

 

Kuil di Jepang

 

Sore itu, aku sedang berada di daerah utara tokyo, aku memutuskan untuk mengunjungi salah satu kuil di sana agar dapat menambah pengetahuanku mengenai budaya Jepang. Semua berawal ketika aku bertemu dengan beberapa gadis remaja yang sedang mengobrol di kuil tersebut.

Mereka terlihat sedang asik membicarakan sesuatu, karena aku juga masih remaja, jadi aku pikir mungkin aku bisa ikut bergabung dengan mereka. Kau tau, berteman dengan warga lokal adalah salah satu cara terbaik untuk mempelajari kebudayaan mereka.

Tapi, seperti kebanyakan orang jepang lainnya, tatapan sinis mereka terhadap orang asing tak dapat dihindari, dan awalnya memang akan terasa canggung, Namun, pada dasarnya mereka adalah orang yang baik, perlahan-lahan aku bisa mulai akrab dengan mereka.

Baca Juga:  Jangan Tinggalkan Aku Sendirian

Kami membicarakan banyak hal dan benar saja, mereka adalah gadis-gadis yang menyenangkan. Selesai mengobrol, mereka mengajakku untuk makan di sebuah kedai, ternyata di Jepang, kau bisa menemukan banyak sekali kedai-kedai makanan di bawah jembatan. Hal tersebut adalah salah satu budaya Jepang yang sudah ada sejak dulu.

Waktu yang sudah semakin larut, membuatku memutuskan untuk kembali ke hotel. Sesaat setelah aku berpamitan dengan mereka, seorang gadis menghentikanku dan berkata “Hei, bukankah kau ingin mengenal budaya jepang?”

“Ya, tentu saja” jawabku antusias.

“Kalau begitu, kau harus tau bahwa sangat tidak sopan jika meninggalkan para gadis di kedai. Selain itu cara berpamitanmu juga salah.” katanya.

 

Jalanan Menyeramkan di Jepang


CreepyPasta Indonesia: Hachishakusama


Entah mengapa aku seperti menangkap pandangan tersirat dari gadis-gadis tersebut, mereka seperti sedang mengerjaiku. Namun aku mencoba membuang pikiran itu. Aku adalah orang asing jadi mungkin jika mereka mengatakan hal yang aku lakukan tidak sopan, maka sepertinya memang begitu.

Aku bertanya apa yang harus kulakukan, dan mereka menjelaskan cara berpamitan yang benar adalah dengan melakukan permainan Ashatikane. Wajahku yang kebingungan sepertinya langsung terbaca dan mereka berkata “Tenang saja, ini hanya sebentar. palingan hanya 5 menit.”

Saat itu kupikir waktu 5 menit bukanlah apa-apa, jadi aku langsung menyetujuinya.

Para gadis itu membawaku ke sebuah jalanan yang sepi yang mengarah pada perempatan jalan. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah sumpit besi dan memberikannya kepadaku, gadis lainnya mengeluarkan sebuah dasi yang ternyata digunakan untuk menutup mataku.

Sebelumnya salah satu gadis menjelaskan “Biasa kami melakukan permainan ini untuk melihat setulus apakah perkenalan kita” jelas salah satu gadis berambut panjang, “Jadi bila kamu berhasil memenangkannya, berarti kita memang ditakdirkan untuk menjadi seorang sahabat, atau mungkin .. kita berjodoh” lanjutnya dengan malu.

Baca Juga:  Zebra Cross

Aku yang mendengar hal tersebut tentu saja menjadi lebih antusias, terlebih lagi gadis itu cukup manis.

“Yang perlu kau lakukan hanya berjalan lurus dengan kondisi mata tertutup menuju ke tengah-tengah perempatan tersebut. Selama berjalan kau harus mendentingkan sumpit tersebut hingga sampai ke tujuan.” ucapnya.

Aku berpikir permainan ini sangatlah mudah. Jadi aku langsung memulainya, diawali dengan menutup mataku dengan dasi yang sudah disiapkan. Sesaat sebelum aku mulai berjalan, aku seperti mendengar mereka mengucapkan sesuatu.

Meskipun aku ini orang asing, namun aku cukup fasih dengan bahasa sehari-hari mereka, dan mendengar apa yang mereka ucapkan itu terdengar seperti sebuah .. Mantra.

 

Perempatan Terseram di Jepang

 

Setelah itu, aku sama sekali tidak mendengar suara – suara lagi, ini aneh .. maksudku kondisinya benar-benar sangat hening. Suasana hening itu ditambah dengan pandangaku yang sepenuhnya gelap membuat tanganku gemetar.

Entah darimana rasa takut tiba-tiba menghampiriku. Jadi aku mencoba untuk melepaskan penutup mataku, hingga tiba-tiba tanganku ditahan oleh seseorang dan ia berteriak dengan sangat keras di depanku, suara itu terdengar seperti seorang wanita yang sedang menjerit kesakitan.

Itu benar – benar hal yang paling mengerikan. Aku mencoba berjalan ke depan dengan kondisi mata yang masih tertutup, aku tidak bisa membukanya karena hal yang sebelumnya tejadi akan terulang lagi.

Entah aku yang baru menyadarinya atau memang udara terasa semakin dingin hingga menusuk tulang. Tak beberapa, keheningan yang sebelumnya aku rasakan perlahan mulai memudar dengan munculnya suara-suara berbisik.

Terdengar suara terkekeh seolah-olah mereka sedang menertawakan sesuatu yang lucu, tapi .. itu bukan suara para gadis. Semakin aku berjalan ke depan suara-suara tersebut mulai berubah, kali ini terdengar suara tangisan dan jeritan.

Seluruh tubuhku gemetar, jalanku semakin tertatih dan keberanianku mulai menghilang. Suara-suara itu kini mulai bercampuran memenuhi pikiranku, suara tertawa riang, tangisan penuh penderitaan dan berbagai jeritan membuat otak ku mulai tak karuan.

Baca Juga:  Hotline Dalam Mimpi

Aku terkejut ketika pipiku merasakan sesuatu yang basah dan lunak, seperti jilatan lidah, hinnga sesaat kemudian tubuhku terpental kebelakang dan sesuatu dengan cepat mencekik leherku dengan sangat kuat.

Aku mencoba melawan, namun apapun itu, ia mulai berteriak hingga membuat telilngaku sakit. Kutarik penutup mataku dengan kuat, sesuatu kembali mencoba menahan tanganku, namun kali ini aku berhasil membukanya, mungkin tenagaku muncul karena terpacu adrenalin karena aku tau nyawaku sedang terancam.

Ketika aku membuka mataku, ternyata tidak ada apapun dan siapapun disekitarku, kecuali para gadis itu. Lalu dimana keramaian yang aku rasakan tadi, darimana suara-suara yang aku dengar, dan siapa yang melemparkan tubuhku!?

 

Suara Jeritan

 

Saat itu, aku langsung berlari dan menyelamatkan diri. Kejadian tersebut benar-benar membuatku trauma hingga aku tidak berani menceritakannya kepada siapapun. Bahkan terkadang aku seperti masih mendengar suara-suara tersebut, namun entahlah mungkin itu hanya sugesti-ku saja.

Pada akhirnya aku memberanikan diri menceritakan kejadian tersebut kepada kenalanku. Ia mengatakan bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung karena bisa lolos dari peristiwa tersebut, karena banyak kejadian ketika korban melihat-“nya”, maka dia tidak akan pernah melepaskan orang tersebut .

Kenalanku tersebut juga mengatakan bahwa para gadis tersebut mengerjaiku untuk bersenang-senang namun kemungkinan yang lebih besar adalah mereka adalah salah satu dari makhluk tersebut.

Terkahir, aku hanya ingin mengingatkan kepada kalian, dan ini juga merupakan saran dari kenalanku. Siapapun kalian saat berlibur ke Jepang lalu ingin berkunjung ke kuil-kuil yang ada dimanapun itu, pastikan untuk TIDAK PERNAH mendekati gadis yang sedang berkelompok.

Karena umumnya, para gadis jepang tidak suka berkelompok apalagi di Kuil-Kuil.

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*