Pistol yang membunuh anakku

Pistol di Brankas

Dinding yang kosong, dengan interior rumah berisi kotak-kotak dus pindahan yang belum dibongkar, jika seseorang berkunjung pasti mereka mengira bahwa pria tersebut baru saja pindah. Hanya saja kenyataannya, dia sudah tinggal di sini selama hampir 6 bulan.

Setelah putra kesayangannya meninggal, tanpa menunggu waktu yang lama, pernikahan mereka pun ikut tak bernyawa. Sang istri sudah lama mengidap depresi dan selalu menutup diri setelah kejadian naas itu. Ia tak pernah berucap sepatah katapun kepada orang lain bahkan suaminya. Pria tersebut menganggap istrinya sama dengan dirinya, berpikir kematian putranya sebagai kesalahannya.

Malam itu, ia lah yang pertama kali menemukan tubuh putranya yang sudah terbujur kaku di kamar tidurnya sendiri, dengan sebuah pistol yang ikut terbaring di sebelahnya. Malam itu juga yang menjadi malam terakhir sang istri mau berbicara dengannya.

“Apa kamu yakin sudah mengunci brankas tempat pistol itu disimpan?” tanya polisi. Di benaknya, pria itu tahu ia sudah menguncinya brankas tersebut rapat-rapat. Namun ketika ia hendak membuka mulutnya untuk membela dirinya sendiri, jawaban yang terlontar hanyalah, “ … saya tidak ingat …”

Selama ini dia begitu yakin menjaga pistol miliknya di tempat yang aman. Namun ia tak pernah mampu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan polisipun melepaskannya karena menganggap itu hanya kecelakaan.

Dan saat ini … hampir 6 bulan ia menempati rumah barunya … pria tersebut mulai tak tahan lagi dengan rasa bersalah yang menghantuinya. Ia memang tak pernah menarik pelatuknya, namun ia-lah yang telah membunuh anaknya, semua itu akibat kelalaiannya.

 

Pistol di Brankas

 

Akhirnya, ia membuka brankas itu. Hanya ada sebuah kotak di dalamnya. ia-pun mengeluarkan pistolnya, lalu meletakan ujung pistol tersebut di pelipisnya. Matanya mulai menutup dan nafasnya mulai tertahan, sampai ia mendengar sesuatu yang memecah konsentrasinya.

“Papa ….”

Ia mulai menghembuskan nafasnya kembali dan membuka matanya. Berdiri di ujung pintu kamarnya sesosok anak kecil yang tidak lain adalah putranya. Psikiaternya pernah mengatakan hal ini mungkin akan terjadi, namun ia tak pernah mengira rasanya akan senyata ini. Ia berjalan mendekati sosok tersebut, menatap mata putranya dalam – dalam, dengan berlinang air mata ia berkata

“Maafkan papa …”

“Ini bukan salah Papa …” jawab bocah itu. Dan kalimat itulah yang ingin di dengar sang ayah. Untuk pertama kalinya, semua rasa bersalah, semua luka, dan siksaan yang ia rasakan selama berbulan-bulan serasa terangkat. Ia jatuh berlutut, meratap, dan menjatuhkan pistolnya ke lantai.

Anak itu melanjutkan.

 

“Ini bukan salah Papa … Mama lah yang menembakku.”

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *