Perampokan Bank

Perampokan Bank
CreepyPasta Indonesia

TUTUP MULUTMU DAN CEPAT MASUKAN SEMUANYA KE DALAM TAS!!!

Itulah teriakan John dari seberang lobby, membentak seorang pegawai wanita yang malang. Tubuh mungilnya gemetar karena ketakutan, aku merasa tidak enak melihatnya namun apa boleh buat, perampokan bank ini harus dilakukan.

Di dalam lobby, tidak berbeda jauh. Semua orang di sini meringkuk dengan ekspresi ketakutan yang telihat jelas dari wajah – wajah mereka. Semua menunduk di bawah senjata yang sedang kupegang ini.

Meskipun aku sudah melakukannya puluhan kali, tapi tetap saja, ada setitik rasa bersalah yg muncul. Untungnya tugasku jauh lebih baik dibanding John. Aku lebih suka mengendalikan sandera daripada melakukan pekerjaan kasar “merampok” yang sesungguhnya.

Aku berteriak ke arah John, tentunya dengan tetap memusatkan perhatianku ke arah para sandera yang bertekuk lutut di hadapanku.

“John, cepatlah!” teriakku

“Diam kau, Jangan menyuruhku buru-buru! Kau lakukan saja tugasmu!” bentaknya kesal.

Huh, aku harap dia bisa mengendalikan dirinya di sana. Jika tidak, polisi bukanlah satu-satunya masalah yang harus kami khawatirkan.

Percakapan singkat dengan John sempat membuat fokusku teralihkan. Akibatnya, tiba-tiba saja aku merasakan hantaman di kepalaku. Ternyata salah satu sandera mencoba untuk menjadi pahlawan.

Sayangnya hantaman itu tidak membuatku terjatuh, akupun melawan dan menghantamkan pukulanku tepat di wajahnya, dan iapun terkapar di lantai.

Pukulan Tepat di Wajah

“JANGAN COBA-COBA JADI PAHLAWAN!!” bentakku sambil menembakkan senjata ke udara. Mereka semua menjerit dan menangis.

John datang tepat waktu. Sambil membawa tas yang sudah terisi penuh maka perampokan bank ini berhasil, kami langsung berlari keluar tanpa buang-buang waktu lagi. Kami berlari melalui pintu belakang dan menembus ke dalam gelapnya malam, berlari beberapa blok dan masuk ke dalam gang dimana van kami sudah menunggu di sana.

Kami masuk ke dalam dan John langsung menyalakan vannya, dalam beberapa menit kami sudah pergi jauh dari bank tersebut.

“Bagaimana?” tanyaku sembari melepaskan topeng ski yang semenjak tadi kugunakan.

“Lumayan. Cukup untuk persediaan kita selama beberapa minggu.” jawab John sembari masih memegang setir.

Akupun menarik tas itu dan membuka resletingnya. Kutumpahkan semua isinya di belakan van. Wah ternyata isinya cukup banyak, ada berkantung-kantung di sana.

“Hmm.. O negatif.” Aku mengigit plastik itu dan mengisap semua isinya, “Favoritku!”

There are things known and there are things unknown, and in between are the doors of perception ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
error: Alert: Konten Dilindingi !!