Kau Harus Memakannya

Makan Semuanya
CreepyPasta Indonesia

Sejak kecil ayahku selalu berkata, “Jika kau membunuh sesuatu, kau harus memakannya. itulah peraturan kita.” Aku pikir itu terdengan cukup masuk akal, karena ayahku adalah seorang pemburu. Namun ternyata aku salah, dia mengartikannya terlalu jauh.

Aku ingat ketika pertama kali hal tersebut terjadi. Usiaku 5 tahun, aku tidak sengaja menginjak semut yang ada di teras rumah, dan ayahku “Singkirkan kakimu dan makan mereka, Nak!” ucapnya. Aku mencoba melarikan diri dan menangis, tetapi dia berhasil menangkapku dan langsung memaksa masuk semut-semut itu ke dalam mulutku. Aku langsung muntah saat itu.

Saat aku berusia 11 tahun, ayah memergokiku membunuh seekor lalat. “Kau boleh memakannya sekarang atau nanti.” katanya. Aku menangis, dan lagi-lagi dia memaksaku untuk memakannya. Setelah beberapa hari aku merasa aku bisa mendengar lalat tersebut berdengung di perutku.

Ketika aku berumur 15 tahun, aku membuat busur dan anak panah dari ranting dan tali. Aku bermain di halaman belakang, menembak asal busurku ke pepohonan dan tanpa sengaja mengenai seekor burung. Ayahku melihatnya dari jendela, “Cepat bawa ke dalam!” teriaknya.

Kau harus memakannya

Aku dipaksa memperhatikan ayahku mencabuti semua bulu burung tersebut dan cara membersihkannya. Dia kemudian merebusnya dengan air mendidih. Ketika matang, dia lalu meletakkannya di depanku. “Sekarang makanlah.” perintahnya. Ayahku berdiri disana, memastikan aku memakan semuanya.

Saat ulang tahunku yang ke 18, ayahku tidak terlihat begitu kejam. Dia membelikanku seekor anak anjing yang lucu. Beberapa bulan kemudian, ia memutuskan untuk mengajariku cara mengendarai mobil. Saat aku belajar memundurkan mobil, tiba tiba aku mendengar suara decitan dan langsung menginjak rem. Kami keluar mobil dan ternyata anjing kesayanganku mati terjepit di roda belakang, aku langsung berlutut dan menangis.

Baca Juga:  Pembersih Jendela

“Kau tahu peraturannya,” kata ayahku.

Aku menggelengkan kepala dan berteriak, “Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!”.

Ayahku mengambil anjing mati itu, tapi aku langsung berlari ke ladang. Aku menghabiskan dua malam dengan tidur yang tidak nyenyak di hutan. Aku kedinginan dan lapar, tetapi aku juga tidak ingin pulang ke rumah. Pada malam ketiga, saat semua lampu dirumah sudah padam aku menyelinap ke rumah melalui jendela dapur sepelan mungkin.

Namun tiba-tiba ayahku ada disana, keluar dari dalam kegelapan, “Makan malammu ada di atas meja” katanya. Dia menyalakan lampu dan menunjuk ke sebuah piring besar dimana jasad anjing peliharanku terbaring, terpanggang hingga kering dengan sebuah apel di rahangnya.

Saat itu aku mencoba lari, tapi dia menarikku dan melemparku ke kursi. Aku menjerit dan menangis, tapi dia tidak peduli. Ayahku memotong-motong daging anjing itu dan meletakkanya di piringku. Aku terpaksa memakannya hingga rasanya perutku akan pecah. Aku tidak tahan lagi, malam itu aku mulai merencanakan untuk merlarikan diri.

Ayahku yang kejam

Tepat sebelum fajar tiba, aku mengemasi tasku, berjalan perlahan di lorong untuk kabur keluar. Tapi Ayahku ada disana. di ujung lorong menungguku. “Pergi ke suatu tempat, nak?” tanyanya dengan tawa sinis.

Aku mencoba berlari dan menerobos melewatinya, tetapi dia melangkah ke arahku dan aku tidak sengaja menabraknya. Dia kehilangan keseimbangan, semuanya seperti terlihat dalam gerak lambat. Aku melihat ayahku terjatuh ke belakang, dia berusaha mengulurkan tangannya untuk memegangku, tetapi aku gagal menjangkaunya.

Dia jatuh terguling, kepalanya menghantam tiap anak tangga, hingga akhirnya mendarat di bagian bawah dengan suara tulang yang patah. Aku berlari menuruni tangga untuk menolongnya, tapi sia-sia. Lehernya berputar ke sudut yang mengerikan, mata terbelalak tak bernyawanya menatapku, dan lagi.. Aku menangis.

Baca Juga:  Bola Putih

 

Air mataku masih terus mengalir ketika aku menyalakan oven dan pergi ke gudang untuk mengambil kapak.

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*