Eugene Bergonier, Pemilik Sirkus Yang Dikutuk Suku Sara Kaba

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sirkus menjadi hal yang populer di Amerika. Dimana ada banyak aksi luar biasa yang memuaskan imajinasi massa, hingga akhirnya menjadi bentuk hiburan utama yang mendominasi pada masa itu.

Sekarang kita akan kembali ke tahun 1900-an, dimana pencarian atraksi tontonan sirkus yang baru dan tak biasa tidak pernah berakhir, dengan berbagai promotor yang juga terus-menerus mencari sesuatu yang eksotis, unik, hingga benar-benar aneh.

Moto saat itu mungkin “Semakin aneh, semakin baik” dan banyak di antaranya yang ditemukan secara kebetulan di negeri yang jauh, di mana sering kali ada orang-orang baru dan tidak biasa yang dapat dieksploitasi untuk orang banyak.

Salah satu kasusnya adalah yang terjadi pada dokter gigi, penjelajah, dan naturalis Perancis Dr. Eugene Bergonier, yang pada tahun 1924 berada di wilayah yang disebut Sahel, sebidang tanah semi-gersang yang membentang di Afrika Sub-Sahara.

Saat itu dia pertama kali bertemu dengan suku yang disebut Sara Kaba, yang akan mengubah jalan hidupnya, dan mungkin juga kematiannya karena sesuatu yang berhubungan dengan ilmu hitam kuno.

Siapakah Suku Sara Kaba?

Bergonier tidak berada di Afrika untuk mencari “bahan” pertunjukan, karena faktanya, pada saat itu dia tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang sirkus sama sekali, dan lebih suka melakukan ekspedisi untuk pembuat mobil Prancis Citroen-Peugeot dan menunjukkan kelayakan melintasi Afrika dengan kendaraan bermotor.

Dia adalah seorang penjelajah dan naturalis pada saat itu yang telah membuat nama untuk dirinya sendiri dengan ekspedisinya di sekitar Arica, dan bukan pemain sandiwara apalagi sirkus, hingga pertemuannya dengan suku Sara Kaba yang membuatnya terpesona.

Salah satu ciri mencolok suku ini adalah kebiasaan mereka memasukkan cakram kayu ke dalam bibir untuk meregangkannya ke proporsi yang benar-benar tidak manusiawi, yang akhirnya membuat mulut mereka seperti paruh bebek. – Hampir sama seperti Suku Mursi

Suku Sara Kaba

Kala itu, Bergonier begitu terpesona dengan suku tersebut sehingga dia mulai memiliki visi untuk membawa mereka dalam tur dan menunjukkan mereka kepada dunia sebagai pameran etnologis. Dan pada tahun 1929 dia kembali ke suku tersebut dan meyakinkan beberapa dari mereka untuk ikut dengannya, dan Bergonier akan bekerja sebagai manajer mereka.

Mereka dipertunjukkan di Montevideo, Uruguay untuk beberapa waktu sebelumnya, lalu ke Paris, dan kemudian pada tahun 1930 dibawa ke Amerika, di mana mereka menjadi sensasi yang luar biasa dan dengan cepat menjadi sangat terkenal.

Mereka menarik perhatian Ringling Bros, Barnum dan Bailey Circus, yang merekrut Bergonier agar dapat menunjukkan orang -orang suku Sara Kaba sebagai bagian dari pameran sirkus “African Village”.

African Village 1930

Pameran ini sama eksploitatif, tidak berperasaan, dan tidak berkeprimanusian seperti yang dibayangkan. Di sini ada tenda dengan berbagai daerah yang dibuat agar terlihat seperti desa atau hutan Afrika, dihuni oleh penduduk asli yang dibawa dari daerah yang jauh atau aktor yang disewa untuk memainkannya.

Sayangnya, ini adalah jenis bisnis yang umum pada saat itu, meski terdengar tragis tetapi nyatanya pameran itu lebih seperti kebun binatang manusia daripada yang kamu bayangkan, mereka memamerkan keheranan para penonton yang sebelumnya belum pernah melihat penduduk asli Afrika yang sebenarnya, dan semuanya menjadi sangat sensasional.

Penduduk asli yang dipertontonkan ini sering disebut sebagai “orang buas” atau “mata rantai yang hilang” dan disuruh bertindak liar dan primitif, dengan beberapa aktor yang terkadang memainkan peran penjelajah kulit putih dan melibatkan mereka dalam pertempuran atau ditangkap oleh mereka dan direbus dalam panci.

Ringling Bros, Barnum dan Bailey Circus

Kembali ke suku Sara Kaba. Agar cocok dengan motif ini, ada beberapa penyesuaian yang dilakukan kepada mereka. Misalnya, “Sara Kaba” dianggap terlalu biasa, sehingga dokter dan agen pers sirkus Roland Butler menemukan nama “Ubangis,” karena mengira itu terdengar lebih “Afrika.”

Sara Kaba kemudian dipamerkan sebagai “Orang Bebek-Beruang Ubangi yang liar ,” dengan poster raksasa mencolok yang menggambarkan mereka sebagai pejuang agresif di hutan hujan Afrika, padahal sebenarnya mereka adalah suku yang damai dari wilayah Sub-Sahara yang gersang.

Kutukan Ilmu Hitam Suku Sara Kaba

Selama era itu pameran rasis, sensasional, dan sesat ini sangat berjaya, mereka bahkan melakukan tur keliling Amerika seperti ini, kemudian ke negara lain seperti Inggris dan Jerman, hingga meneruskannya ke Al G. Barnes Circus pada tahun 1932.

Al G. Barnes Circus pada tahun 1932

Sepanjang masa-masa itu, Bergonier menghasilkan uang dari tangan “biadab” nya, tetapi Sara Kaba sendiri tidak senang dengan perlakuan tersebut. Meskipun mereka dibayar untuk pekerjaan mereka, mereka menuduh Bergonier menipu dan melecehkan mereka, dan ini sampai pada titik di mana mereka akan terlibat dalam perselisihan yang hebat.

Dikatakan bahwa pada suatu kesempatan Sara Kaba mengancam hidup Bergonier, memperingatkannya bahwa mereka akan mengutuknya dengan sihir dukun Afrika. Hal ini diduga sangat menakutkan Bergonier sehingga dia melarikan diri untuk tinggal di Sarasota, Florida, di mana dia berharap dia bisa menghindari sihir hitam busuk mereka.

Dia tampaknya benar-benar percaya bahwa mereka telah mengutuknya, dan kejadian aneh segera terjadi tepat setelah dia tiba di Florida, terserang penyakit misterius dan meninggal. Ketika dokter melihatnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa dia telah meninggal karena pneumonia septik yang disebabkan oleh jerawat yang terinfeksi di kakinya.

Suku Sara Kaba Yang Dijadikan Objek Sirkus

Hal ini dianggap sangat aneh, dan rumor bahwa dia telah dikutuk oleh Sara Kaba mulai beredar, dan semakin mengemuka ketika Sara Kaba benar-benar mengakui bahwa mereka telah menyebabkan kematiannya dengan ilmu hitam.

Masalahnya adalah, kita tidak mungkin mengetahui apakah Bergonier benar-benar dibunuh oleh ilmu hitam, tetapi yang pasti ini adalah kisah masa lalu yang sudah menyeramkan sejak awal.

Sungguh “menakjubkan” untuk membayangkan bahwa di era tersebut, eksploitasi dan objektifikasi kepada orang-orang tak biasa itu adalah bentuk hiburan yang sangat sah. Dimana hari-hari yang disebut “kebun binatang manusia” dianggap sangat normal dan menyenangkan.

Apakah Bergonier mungkin membuat marah suku yang salah? Kita mungkin tidak akan pernah tahu, tapi ini adalah kilasan sejarah abad lalu yang aneh, mengerikan, dan .. tragis.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*