Misteri dan Kisah Kelam Toko Merah Kota Tua, Jakarta

Misteri Kisah Kelam Toko Merah Kota Tua Jakarta

 Misteri dan Sejarah Toko Merah Kota Tua, Jakarta 

Berada disatu kawasan dengan Museum Fatahillah Kota tua, Jakarta, ada sebuah bangunan yang sekarang dikenal dengan nama Toko Merah. Bangunan ini memiliki sejarah kelam yang sangat panjang, sejak dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff.

Bangunan yang berdiri di tanah seluas 2.471 meter persegi ini memiliki arsitektur yang khas bergaya Tionghoa dengan warna merah orientalnya. Bahkan jika kamu masuk ke dalam, interiornya juga akan didominasi dengan warna merah.

Nama “Toko Merah” sendiri, baru diberikan pada abad ke-19 ketika kepemilikan bangunan ini jatuh ke salah satu pejabat Tiongho kala itu, yang bernama Oey Liauw Kong. Ada yang mengatakan nama Toko Merah memang diambil dari warna bangunan hingga ukiran-ukirannya yang berwarna merah.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama tersebut sebenarnya diambil setelah peristiwa mengerikan “Geger Pecinan” yang saat itu banyak memakan korban orang Tionghoa, dan mayat-mayat mereka bergelimpangan di Kali Besar hingga permukaan air berubah menjadi merah pekat.

 

Cerita Seram Toko Merah Kota Tua

Cerita Seram Toko Merah Kota Tua

Bangunan yang terletak di Jl. Kali Besar Barat no. 11 ini memiliki 16 lantai dan tak pernah sepi dari pengunjung yang penasaran mengenai sejarah dan arsitektur unik Toko Merah.

Selain itu, banyak orang-orang yang penasaran mengenai cerita seram Toko Merah, salah satunya adalah kisah mengenai pembantaian para gadis yang pernah terjadi di dalam bangunan ini. Banyak warga sekitar yang mengaku pernah mengalami beberapa kejadian angker di sekitar area Toko Merah

Misalnya, sering mendengar suara langkah kaki prajurit, hingga suara teriakan dan tangisan wanita pada malam hari. Ada juga yang mengatakan pernah melihat sosok wanita bergaun putih yang berjalan di sana, dan yang paling menyeramkan adalah sosok wanita yang diam-diam melihatmu dari salah satu Jendela.

Menurut seorang penjaga Toko Merah, pernah ada sebuah kejadian yang memicu kepanikan warga. Saat itu dikatakan ada seorang wisatawan yang menjadi korban keisengan penghuni bangunan merah tersebut.

Wisatawan tersebut adalah seorang anak muda yang datang ke Toko Merah dan berniat untuk mengambil beberapa foto di sana. Namun baru beberapa kali jepretan, ia tiba-tiba terjatuh dan berteriak-teriak, tapi tidak menggunakan bahasa Indonesia.

Misteri Toko Merah Kota Tua

Anak muda yang kerasukan tersebut memancing seluruh warga yang ada di sana untuk memenuhi area Toko Merah, hingga akhirnya ia bisa disadarkan. Ketika ditanya apa yang terjadi, anak muda itu berkata bahwa ketika ia sedang memotret sudut bangunan Toko merah, ia tiba-tiba melihat sesosok hitam masuk ke bingkat kameranya, setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.

Selain itu ada cerita mistis Toko Merah lainnya yang datang dari seorang pedagang berumur 54 tahun yang sudah berjualan di sana selama hampir 32 tahun. Ia membuka warung di sebelah Toko Merah meneruskan usaha yang telah dirintis ibunya.

Ia bercerita, bahwa pada suatu malam ia pernah mendengar suara tanpa wujud yang seolah-olah memanggil dirinya. Karena penasaran, ia mencoba mencari asal suara tersebut hingga berjalan ke depan Toko Merah, namun ia tidak menemukan siapapun di sana.

Ia juga pernah mendengar suara wanita yang menangis dan kadang tertawa dari dalam Toko merah, padahal saat malam hari, bangunan tersebut ditutup sehingga seharusnya tidak ada orang lain di dalam sana.

 

Toko Merah Sebagai Saksi Peristiwa Geger Pecinan

Cerita Seram Toko Merah

Pada tahun 1740 pernah ada sebuah peristiwa sejarah mengerikan yang dikenal dengan sebutan Geger Pecinan atau Tragedi Angke. Saat itu, tepatnya tanggal 9 Oktober, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier memerintahkan prajurit VOC untuk menggenosida seluruh orang keturunan Tionghoa beserta keluarganya.

Pembantaian keji tersebut dilakukan selama 13 hari dan menewaskan sekitar 24 ribu orang Tionghoa. Semua mayat-mayat mereka berserakan di sekitar Kali Besar hingga darah mereka mengubah permukaan warna air menjadi merah pekat.

Dan dikatakan, Toko Merah adalah tempat penyiksaan dan pemerkosaan para gadis Tionghoa hingga mereka menemukan ajal mereka di sana.

 

Sejarah Panjang Toko Merah Kota Tua

Sejarah Kelam Toko Merah Jakarta

Pada tahun 1750 – 1780, Toko Merah pernah menjadi kediaman beberapa Gubernur dan Jenderal, hingga kemudian beralih menjadi kampus dan asrama akademi angkatan laut. Lalu pada tahun 1786 – 1808 bangunan ini digunakan sebagai hotel untuk para pejabat masa itu.

Pada tahun 1809-1813, kepemilikan bagunan ini jatuh pada Anthony Nacare dan dijadikan sebagai rumah tinggal olehnya. Kemudian pada kurun waktu 1813-1851 kepemilikannya terus berganti-ganti hingga akhirnya dimiliki oleh Oey Liauw Kong dan difungsikan sebagai sebuah Toko, sehingga bangunan tersebut menjadi populer dengan sebutan “Toko Merah”

Pada tahun 1920, Toko Merah dibeli oleh NV Bouw Maatschappij dengan biaya 1 juta Gulden (atau 8,3 miliar jika menggunakan kurs sekarang). Bangunan itu kemudian diperbaiki oleh Bank Voor Indie yang kemudian menjadikannya sebagai kantor hingga tahun 1925.

Setelah itu, pada masa pendudukan Jepang, Toko Merah dijadikan sebagai Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Hingga kemudian setelah kemerdekaan Indonesia, Toko Merah kembali melewati fase perpindahan kepemilikan mulai dari PT. Satya Niaga pada tahun 1964, PT Dharma Niaga (Ltd) pada tahun 1977, hingga tetap digunakan sebagai kantor pada tahun 1990 an.

Sampai pada tahun 1993, Toko Merah Kota Tua dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Gubernur DKI Jakarta. Dan pada akhirnya sejak tahun 2012, Toko Merah beralih menjadi sarana tempat konferensi dan pameran.

There are things known and there are things unknown, and in between are the doors of perception ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
error: Alert: Konten Dilindingi !!