Paman Jerry

“Sekarang dengarkan, ayah tidak ingin kau berbicara terlalu lama dengannya, kecuali jika ayah ada di dekatmu, mengerti?”

“Baik, Yah”

“Ayah serius! Sekarang rapikah bajumu.. dia datang.”

Pintu mulai membuka, dan di sana terliha paman Jerry sedang berdiri. Tubuhnya basah kuyup karena keringat setelah bekerja di bawah teriknya matahari musim panas.

“Di luar panas banget, ya?” ucapnya sembari meletakan tas perkakasnya di lantai, dan mulai melepaskan ikatan tali sepatunya. “Terima kasih telah memperbolehkanku menginap malam ini.”

“Jangan lupa dengan janjimu untuk pergi saat subuh nanti.” jawab ayahku datar.

“Tentu saja” balas paman Jerry tersenyum.

“Nah, sekarang …” paman Jerry menoleh ke arahku dan berjongkok agar bisa menatapku, “Mana pelukan untuk paman Jerry? Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat keponakanku yang sangat cantik ini.”

Aku melingkarkan kedua lenganku di pundaknya. Ia membalasnya dengan dekapan erat yang sedikit membuatku tidak nyaman. Kubiarkan suara desahan pelan keluar dari mulutku.

“Apakah kau tahu suhu di luar sana hampir 40 derajat?” tanyanya sambil mencoba menaikan lengan panjang bajuku.

“Tidak tau, Aku belum keluar seharian.” jawabku.

“Hei, bukannya kau ada PR yang harus dikerjakan?” ucap ayahku tiba-tiba.

Aku tau itu adalah aba-aba agar aku segera pergi, jadi akupun langsung kembali ke kamarku

 

•••

 

Malam pun tiba, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, bergerak sana-sini untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki di lorong depan kamar tidurku.

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan kamarku. Setelah beberapa detik dalam keheningan, pintu kamarku perlahan terbuka, tanpa suara. Aku membuka mataku sedikit untuk mengintip, dan terlihat siluet hitam seorang pria memasuki ruangan. kemudian menutup kembali pintu kamarku.

 

Paman Jerry Masuk Kamarku

 

Setelah itu, keheningan kembali menghampiri. Aku pikir aku hanya berhalusinasi, sampai tiba-tiba terdengar suara napas yang semakin lama semakin memburu. Tangannya kemudian menyentuh tubuhku.

Ia mulai meraba perutku, kemudian perlahan mengangkat kaosku ke atas. Aku mengintip lagi dari sudut mataku, dan terlihat cahaya senter yang sudah agak redup dan mata paman Jerry yang sedang menatap tubuh telanjangku. Jari-jemarinya terus meraba tubuhku, dan kini berjalan ke punggungku. Setelah itu, tiba-tiba ia beranjak membukan pintu dan berjalan keluar. Aku pun merapikan kaosku kembali dan mencoba untuk tidur.

 

•••

 

Saat pagi, dia sudah tidak ada ketika aku bangun.

Menjelang siang, Ayahku sedang tidak ada dirumah, dan telepon rumahku berdering.

“Halo?” sapaku.

“Hai, Sayang!”

“Paman Jerry?”

“Ya. Apa ayahmu ada?”

“Tidak ada. Ayah sedang pergi ke toko.”

“Bagus!” katanya dengan suara sedikit bergetar. Dia diam sejenak, kemudian berbicara kembali, “Aku menelepon karena masalah kemarin malam. Aku tidak tahu apakah kamu terbangun atau tid…“

“Aku bangun.”

“Well, kalau begitu aku langsung saja. Aku ada pertanyan untukmu dan aku ingin kau jujur pada pamanmu ini.”

“Ya?”

“Luka dan memar di sekujur tubumu itu, apakah ayahmu yang melakukannya?”

 

Please follow and like us:
20

1 thought on “Paman Jerry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *